Pemuda dan Buah Apel

ilustrasi

Pada zaman dahulu ada seorang pemuda yang sholeh dan memiliki sifat wara (sifat hati-hati) dalam tingkah laku dan perbuatanya, serta jujur dalam tutur katanya. Pada suatu hari, pemuda itu berjalan di pinggir sungai. Karena nampak air sungai itu jernih dan menyegarkan, pemuda itu ingin membasuh mukanya dari air sungai itu. Ketika pemuda itu membasuh kedua tangannya dan mukanya, tiba-tiba ada sebuah apel, terbawa arus sungai, datang menghampirinya. Karena dalam keadaan lapar, tanpa pikir panjang, pemuda itu mengambil dan memakannya. ketika dia memakan sebagian dari apel itu, pemuda itu mulai berpikir, “darimana asalnya buah apel ini?” Ia sadar kalau apel itu ada yang mempunyai, dan pemiliknya pasti ada di hulu sungai ini.


Pemuda itu pun pergi menyusuri aliran sungai untuk mencari sumber dimana buah apel itu berasal. Akhirnya pemuda itu pun menemukan sebuah kebun apel yang salah satu pohonnya, ranting-rantingnya menjulur ke sungai. Pemuda ini bertekad untuk mencari pemilik kebun itu untuk meminta keikhlasannya dan keridhoannya salah satu buah yang dia makan tersebut.

Ketika pemuda itu bertemu dengan pemilik kebun, yang menurut keterangan, dia adalah seorang ulama besar, pemuda itu menceritakan kronologisnya yang membawa dia datang menemui pemilik kebun apel tersebut. Mendengar cerita dan kejujuran serta sifat waranya, pemilik kebun apel itu merasa kagum dan simpatik atas pengakuan dan kejujurannya. Pemilik kebun apel itu pun hendak menguji kejujuran dan ketulusannya. Akhirnya si pemilik kebun pun mengajukan syarat kepada pemuda tersebut, bahwa jika si pemuda ingin sang pemilik kebun mengikhlaskan atas apa yang telah si pemuda makan, maka si pemuda harus menebusnya dengan bekerja selama beberapa hari di kebunnya.

Si pemuda pun tidak merasa keberatan dengan syarat tersebut. jika memang itu bisa menebus sebuah apel yang telah di makannya. Hari pun berlalu sesuai dengan kesepakatan antara si pemuda yang jujur dan si pemilik kebun apel tersebut, dan dengan bijak dan waranya si pemuda sholeh ini pun mengajukan pertanyaan “wahai tuan sudah cukupkan waktu yang telah aku lalu di tempat ini?”

Si pemilik kebun apel ini memang sangat menyukai kejujuran dan sifat wara si pemuda. Ia berniat ingin menikahkannya dengan putrinya. Iapun mengajukan pertanyaan kepada pemuda tersebut, “bila kamu ingin aku menghalalkan apa yang kamu makan, maka maukah kamu menikahi putriku? dia buta, tuli, gagu, tangannya cacat, dan lumpuh.”

Untuk sementara waktu si pemuda tersebut terdiam, dan menjawab, “baiklah, aku bersedia.”

Si pemilik kebun pun memanggilnya putrinya. Namun betapa kagetnya si pemuda ketika melihat putri si pemilik kebun. “Tuan bilang, putri tuan buta, tuli, gagu, cacat, dan lumpuh, namun ia tidak buta, tuli, gagu, cacat, maupun pincang, malahan ia sangat cantik?”

Pemilik kebun pun tersenyum dan menjawab, “kamu layak untuk putri ku karena kejujuran dan sifat wara yang kamu miliki,dan putriku pun layak untuk kamu.”

“Dia memang buta karena ke 2 matanya tidak di pakai untuk melihat hal-hal yang di larang oleh allah. Dia tuli karena ke 2 telinganya tidak dipakai untuk mendengarkan hal-hal yang sia-sia dan dilarang oleh Allah. Dia bisu karena mulutnya tidak berbicara karena nafsu (mengunjing, mencemoohkan orang lain, menyakiti orang lain dengan lisannya). Tangannya cacat karena dia tidak memiliki 2 tangan yang pakai untuk maksiat, dan dia lumpuh karena dia tidak memiliki 2 kaki yang di gunakan untuk melangkah di jalan yang di larang oleh allah.”

akhirnya mereka pun menikah dan melahirkan anak yang soleh. Kelak di kemudian hari, anak mereka akan menjadi seorang ulama besar. (sumber)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s